Lama di Kantor Bukan Berarti Boleh Bebal dan Anti-Kritik
Di setiap kantor, biasanya ada satu sosok yang sudah menjadi "legenda". Bukan karena prestasinya yang selangit, tapi karena kombinasi antara masa kerja yang sudah belasan tahun dengan resistensi terhadap masukan yang luar biasa tinggi. Dia memang bisa bekerja, tapi seolah ada dinding beton yang menutup nalarnya untuk memahami alur kerja secara luas. Sosok yang kalau sudah berhubungan dengan divisi lain, bisa dipastikan tensi ruangan langsung naik dan suasana menjadi keruh.
Masalah utamanya bukan pada kemampuannya menyelesaikan tugas teknis, melainkan pada ego yang merasa paling benar. Kritikan membangun dari rekan sejawat, bahkan teguran langsung dari pimpinan sekalipun, sering kali dibalas dengan pembelaan yang semakin lama semakin ngawur. Seolah-olah, pengalaman belasan tahun baginya adalah sertifikat untuk berhenti belajar dan berhenti mendengarkan.
Analogi Bank: Kenapa Aturan Itu Ada?
Mari kita bicara soal logika sederhana. Bayangkan sebuah bank. Jika jam operasional berakhir pukul 15.00, maka pukul 15.01 pintu sudah terkunci rapat. Nasabah yang datang terlambat harus kembali besok. Tidak ada negosiasi, tidak ada pengecualian yang dipaksakan di luar sistem. Kenapa? Karena bank punya prosedur, ada proses closing yang melibatkan ketelitian banyak divisi, dan ada aturan yang menjaga agar organisasi tetap sehat serta teratur.
Masalah muncul ketika ada teman sekantor yang merasa dirinya adalah "pahlawan konsumen". Demi menyenangkan orang luar, dia rela menabrak aturan rumahnya sendiri. Dia memaksa divisi lain melanggar prosedur yang sudah disepakati bersama. Niatnya mungkin terlihat mulia—ingin memberikan pelayanan maksimal—tapi dampaknya justru merusak ritme kerja tim dan menciptakan kekacauan koordinasi. Dia lupa satu hal fundamental: tanpa aturan internal yang kuat, kantor akan rubuh, dan pada akhirnya tidak akan ada lagi tempat untuk melayani konsumen tersebut.
Logika yang Mati di Tengah Masa Kerja
Sangat mengherankan melihat seseorang yang sudah bekerja belasan tahun tapi tetap menutup mata pada alur kerja divisi lain. Dia terlalu sibuk melakukan intervensi pada wilayah kerja orang lain, namun buta pada dampak kerusuhan yang dia ciptakan sendiri. Ini bukan lagi soal pengalaman kerja, tapi soal attitude dan wawasan. Saat seseorang terlalu membela konsumen sampai mengabaikan aturan kantor, dia sebenarnya sedang menghancurkan ekosistem tempat dia mencari nafkah.
Lalu, bagaimana cara kita menyikapi manusia dengan tipe seperti ini tanpa harus ikut kehilangan kewarasan setiap hari?
- Tetap Tegak pada SOP (Standard Operating Procedure): Saat dia mulai memaksa untuk melanggar aturan, jangan balas dengan emosi yang meledak-ledak. Balas dengan dokumen dan fakta. Katakan dengan tegas, "Sesuai aturan perusahaan, proses ini tidak bisa dilakukan di luar jam yang ditentukan." Jadilah "pintu bank" yang sudah terkunci. Konsistensi kita adalah tameng terbaik menghadapi argumennya yang tidak masuk akal.
- Batasi Ruang Intervensi: Jangan biarkan dia melangkah terlalu jauh ke dalam wilayah kerjamu. Jika dia mulai mengatur urusan divisi lain, ingatkan dengan sopan namun tajam tentang batas tanggung jawab masing-masing. Biarkan dia sibuk dengan dunianya sendiri, tapi jangan biarkan dia mengacak-acak dapur kerja orang lain hanya demi ambisi pribadinya.
- Dokumentasikan Jalur Komunikasi: Manusia tipe ini biasanya sangat pandai bersilat lidah saat ditegur secara lisan. Mulailah berkomunikasi melalui jalur resmi seperti email atau pesan tertulis lainnya. Jika terjadi gesekan atau pemaksaan kehendak yang melanggar aturan, pastikan ada jejak digital yang jelas. Ini penting agar saat pimpinan bertanya, kita punya bukti nyata, bukan sekadar keluhan perasaan.
- Jaga Jarak Mental dan Emosional: Jangan masukkan pembelaannya yang ngawur ke dalam hati. Anggap saja itu suara radio rusak yang frekuensinya memang tidak pernah bisa diperbaiki lagi. Hemat energimu untuk pekerjaan yang lebih produktif daripada harus berdebat dengan nalar yang memang sudah tertutup rapat.
Menjadi loyal pada konsumen itu bagus, tapi menjadi loyal pada sistem perusahaan itu wajib. Kantor bukan milik perorangan yang aturannya bisa ditekuk sesuka hati demi kepentingan satu atau dua orang saja. Kita bekerja di dalam sebuah organisasi besar yang saling berkaitan, bukan di dalam sebuah sirkus di mana semua orang bisa beratraksi seenaknya sendiri tanpa memedulikan keselamatan kru lainnya.
Kalau setelah belasan tahun dia tetap tidak mau belajar bagaimana cara menghargai alur kerja divisi lain, mungkin memang dia sudah mencapai batas maksimal kapasitas nalarnya. Tugas kita bukan untuk mengubahnya—karena pimpinan saja ditantang, apalagi kita—tapi tugas kita adalah menjaga agar kegilaannya tidak merusak ritme dan ketenangan kerja kita. Tetaplah profesional, tetaplah pada aturan, dan biarkan sistem yang nantinya akan menyeleksi siapa yang benar-benar berkualitas.

Komentar